Gambar dibuat dengan Gemini Ai
Campusnesia.co.id - Politik sering datang dengan wajah yang santun. Ia dibungkus oleh kata-kata yang terdengar indah: rakyat, perubahan, pengabdian, pembangunan, dan kepentingan bersama. Di hadapan publik, semua tampak tertata dan meyakinkan. Namun, tidak jarang di balik kalimat-kalimat manis itu tersimpan ambisi, siasat, serta kepentingan yang tidak selalu mudah terlihat.
Kesan itulah yang terasa ketika membaca cerpen Konvensi karya A. Mustofa Bisri. Melalui cerita yang ringan, satir, dan penuh ironi, cerpen ini mengajak pembaca melihat dunia politik dari jarak yang lebih dekat. Bukan politik besar yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan politik lokal yang akrab dengan lobi, restu tokoh berpengaruh, pencitraan, dan perebutan dukungan.
Cerpen ini menghadirkan tokoh “aku” yang dikenal sebagai “orang pintar”. Awalnya, ia hanya dianggap seperti dukun biasa yang didatangi orang-orang untuk berbagai urusan. Namun, seiring waktu, namanya semakin dikenal. Banyak orang mulai datang kepadanya untuk meminta nasihat, pertolongan, bahkan restu. Ketika musim pemilihan kepala daerah tiba, rumah tokoh “aku” pun semakin ramai. Orang-orang yang datang tidak lagi hanya membawa persoalan pribadi, tetapi juga membawa kepentingan politik.
Dari titik inilah kekuatan cerita mulai terasa. Para tokoh politik yang datang kepada tokoh “aku” umumnya membawa alasan yang terdengar mulia. Mereka berbicara tentang keprihatinan terhadap kondisi daerah, keinginan memperbaiki pembangunan, dan niat untuk menyelamatkan masyarakat. Sekilas, semua ucapan itu tampak baik dan penuh kepedulian. Namun, semakin jauh cerita dibaca, pembaca justru menangkap adanya ambisi kekuasaan yang bergerak di balik bahasa yang santun tersebut.
A. Mustofa Bisri tidak menyampaikan kritik politik dengan cara yang keras atau menggurui. Ia memilih cara yang lebih halus melalui percakapan sederhana, suasana yang kadang lucu, serta ironi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Justru karena disampaikan secara ringan, kritik dalam cerpen ini terasa semakin tajam. Pembaca dapat melihat bagaimana seseorang bisa tampak rendah hati, padahal sedang membuka jalan menuju jabatan.
Ada tokoh yang mengaku tidak terlalu berambisi, tetapi hampir seluruh ucapannya menunjukkan keinginan untuk dicalonkan. Ada pula yang berkali-kali membawa nama rakyat, padahal di balik itu tersimpan usaha untuk memperkuat posisi pribadi. Di sinilah Konvensi menjadi menarik. Cerpen ini tidak hanya membicarakan politik, tetapi juga membongkar bagaimana kepentingan pribadi sering kali dibungkus dengan bahasa yang terdengar luhur.
Hal lain yang membuat cerpen ini kuat adalah caranya memperlihatkan bahwa politik tidak selalu berjalan lurus seperti yang terlihat di permukaan. Dukungan bisa berubah, kesepakatan dapat bergeser, dan tokoh yang tampaknya kuat belum tentu benar-benar aman. Dalam dunia politik, orang yang paling percaya diri belum tentu menjadi pemenang. Mereka yang merasa sudah mendapat dukungan pun bisa saja berhadapan dengan kenyataan yang berbeda.
Judul Konvensi terasa tepat karena tidak hanya menunjuk pada proses pemilihan calon dalam partai. Lebih dari itu, judul tersebut menggambarkan ruang politik yang dipenuhi strategi, kepentingan, dan tarik-menarik kekuasaan. Konvensi seharusnya menjadi proses yang terbuka dan demokratis. Namun, dalam cerpen ini, Konvensi justru terasa seperti panggung tempat berbagai siasat dan perhitungan politik dimainkan.
Di balik kelucuannya, cerpen ini menyentuh persoalan yang masih relevan hingga sekarang. Setiap menjelang musim pemilihan, masyarakat sering melihat tokoh-tokoh yang tiba-tiba tampil dekat dengan rakyat. Mereka hadir di tengah warga, berbicara tentang perubahan, menunjukkan kepedulian, dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Tentu tidak semua niat politik harus dicurigai. Namun, cerpen ini mengingatkan pembaca agar tidak mudah terpesona oleh kata-kata manis.
Politik memang sering membutuhkan janji, tetapi masyarakat membutuhkan bukti. Politik membutuhkan dukungan, tetapi rakyat membutuhkan kejujuran. Pesan inilah yang terasa kuat dalam cerpen Konvensi. A. Mustofa Bisri seolah mengajak pembaca untuk lebih cermat membaca bahasa politik. Sebab, yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang dikatakan seorang tokoh, melainkan juga kepentingan apa yang mungkin bergerak di balik ucapannya.
Selain menyoroti ambisi kekuasaan, cerpen ini juga memperlihatkan posisi tokoh berpengaruh dalam masyarakat. Tokoh “orang pintar”, kiai, atau sosok yang dihormati sering menjadi tempat para calon mencari restu dan legitimasi. Hal ini sangat dekat dengan kenyataan sosial di Indonesia. Dalam banyak situasi, dukungan dari tokoh tertentu dapat memperkuat citra politik seseorang dan memengaruhi pandangan masyarakat.
Kelebihan cerpen Konvensi terletak pada cara penyampaiannya yang sederhana. Ceritanya tidak rumit, tetapi maknanya luas. Pembaca tidak dipaksa menerima kesimpulan tertentu. Sebaliknya, pembaca diajak mengamati sendiri bagaimana para tokoh berbicara, menyusun alasan, dan memainkan perannya masing-masing. Dari sana, pembaca dapat memahami bahwa politik sering kali tidak sesederhana slogan yang terpampang di baliho.
Sebagai karya sastra, Konvensi menunjukkan bahwa cerpen dapat menjadi ruang kritik sosial yang cerdas dan menghibur. A. Mustofa Bisri tidak perlu menggunakan bahasa teori yang berat untuk membicarakan kekuasaan. Melalui tokoh, dialog, dan situasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat, cerpen ini mampu membuka percakapan tentang ambisi, pencitraan, dan kepentingan politik.
Membaca Konvensi membuat pembaca sadar bahwa sastra bukan sekadar hiburan. Sastra juga dapat menjadi cermin untuk melihat kenyataan sosial. Melalui cerita ini, pembaca diajak tersenyum sekaligus berpikir. Ada humor di dalamnya, tetapi humor itu tidak kosong. Ada kritik yang tajam, tetapi kritik itu tidak disampaikan dengan kemarahan.
Pada akhirnya, Konvensi menjadi cerpen yang tetap menarik untuk dibaca karena persoalan yang diangkat masih dekat dengan kehidupan hari ini. Politik masih sering tampil dengan wajah santun, bahasa indah, dan janji yang meyakinkan. Namun, cerpen ini mengingatkan bahwa masyarakat perlu tetap kritis. Jangan hanya terpukau oleh ucapan. Jangan hanya percaya pada citra. Sebab, dalam politik, apa yang tampak di depan panggung sering kali berbeda dengan apa yang bergerak di belakang layar.
Penulis:
Muhammad Ilham Syukur
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.














